Senin, 14 Mei 2012

jangan mau cuma jadi butiran debu


Aku terjatuh dan tak bisa bangkit lagi
Aku tenggelam dalam lautan luka dalam
Aku terjatuh dan tak tahu arah jalan pulang
Aku tanpamu butiran debu

Itu bukan puisi yaa. Itu lirik lagu. Lagu yang akhir-akhir ini sering banget saya dengar. Awalnya denger pas nonton infotainment, lagu itu jadi lagu pas closingnya. Tapi lama-lama jadi sering denger dari temen-temen. Lagu itu judulnya Butiran debu by Rumor. nggak munafik saya juga sempet download sendiri dan masuk dalam playlist saya, tapi nggak lama. Hehe

Saya kepikiran. Kenapa sih ini orang mengumpamakan dirinya sebagai ‘butiran debu’?
Debu kan sesuatu yang sangat nggak berguna, kotor, mengganggu dari segi keindahan atau kesehatan. Coba di setiap sudut ruangan kalau keliatan ada debu sedikit aja, pasti kita langsung bersihin kan? Semua orang nggak akan membiarkan perabotannya berdebu. Itu pasti.

Debu itu sumber penyakit, makanya kalo orang bersih-bersih biasanya pake masker untuk menghindari debu. Jadi orang (pencipta lagu) ini pengen menyatakan kalau dirinya sebagai debu dan dihindari banyak orang begitu?? Udah merasa hidupnya terlalu ramai apa gimana sampe dia pengen jadi debu yang dihindari sama orang-orang. Debu itu sumber penyakit.

Dari awal saya dengerin lagu ini udah kasian. Melasss banget ini lagu. Galaunya udah stadium empat. Keparat.

Coba deh ya kata debu itu diganti pake emas atau berlian atau benda lain yang lebih penting dan berguna. Hmm kalo pake berlian sih gak masuk ya, soalnya berlian kan tiga suku kata (ber-li-an) jadi nadanya bisa berubah, pake emas dong kalo begitu, sama-sama dua suku kata (e-mas). Kalo misalnya masih mikir lagi emas nggak berbentuk butiran, tapi batangan. yah mikir aja lagi lebih dalem, emas yang mau dibentuk buat kalung itu apa nggak dijadiin butiran-butiran dulu tuh!

Kalo make kata emas sebagai wujud kegalauannya itu akan lebih ngasih nilai ke galauers itu sendiri. Emas atau berlian loh mahal, eksklusif, kinclong, diinginkan dan disukai hampir semua orang, tapi Cuma orang-orang tertentu yang bisa memilikinya.

Nah, menurut saya untuk orang-orang penganut paham galauisme, jadilah umat galau yang bermartabat, berkelas, dan elegan. Jati diri itu penting, begitu juga dengan pencitraan.

Jangan mau Cuma menjadi umat galau yang istilahnya galau akut atau kalau itungan nyawa gitu udah koma. Cuma pengen orang tahu, biar orang kasian, terus iba, terus diperhatiin, terus PDKT, terus lanjut dan ternyata nggak sampe jadian tapi Cuma di-PHP-in (PHP: Pemberi Harapan Palsu), dan akhirnya galau lagi, lebih parah, sekarat. Mampuss kan. Ujung-ujungnya stress, bunuh diri, dan jadi makhluk terbodoh di dunia dan akhirat. Hina sekali hidupnya.

Jadilah umat galau yang seperti emas atau berlian itu tadi. Terlihat menarik, tapi tidak mengganggu, malah menyenangkan, berkilau atau ceria, dan orang akan memberikan perhatian yang lebih, bukan karena kasihan, tapi karena kagum.
 Walau dalam hati kamu adalah debu, biarin aja, tahan debu itu di dalam, jangan dikeluarin, karena itu kotor, sumber penyakit. Keluarin aja emas dan berlian yang berkilau itu. Akting lah sedikit-sedikit. Jangan apa adanya terus tapi mengharap belas kasihan orang. Selama kita bukan fakir miskin (dalam arti beneran ya, bukan fakir asmara) kita nggak perlu minta orang untuk kasihan dan prihatin sama kita.

Semoga tulisan saya kali ini bisa membangkitkan hati-hati para umat galauers yang (sebenarnya) mulia, untuk lebih menjadi umat yang hidupnya bermutu, tak melulu soal galau.
Helloooooooo, hidup ini indah, masih sangat banyak sisi lain yang menunggu kita untuk menjamahnya..


~Mbuss

Minggu, 29 April 2012

bukan psikopat

Masih berhubungan dengan post sebelumnya, Pahlawan Pelajar. Beberapa hari yang lalu juga Anke bbm saya yang intinya dia kewalahan dengan tugasnya. Itu masih wajar. Yang nggak wajar adalah setelah itu dia bilang gini “bunuh akuuuu. Bunuh akuuuu. Bunuh akuuu Mbuss!!!!!!!!!!!!!”
Saya nggak tau, apa dia bercita-cita untuk jadi Pahlawan Pelajar atau ingin bertemu Suzana sebagai sesama penggemar sate. (hahahaha)

Kembali ke Anke. Saya nggak tau gimana balesin bbm itu. Speachless. Seingat saya, saya cuma bilang “kalau mau mati, mati aja sana bunuh diri. Nanti kita pelajar yang masih hidup bakal seneng-seneng, karena nggak akan ngerasain lagi hidup dengan banyak tugas.”

Udah. Pause dulu tentang pahlawan pelajar.

Kemarin, ada salah seorang temen yang hobinya galau mancing saya buat bikin keramaian di twitter. Kesannya kayak saya ini pembuat kerusuhan gitu. Baiklah Saya abaikan dia karna saya masih ada kerjaan. Setelah saya mood ngetwit barulah saya mulai. Dan benar-benar mebuat keramaian.
Saya ngetwit kalo temen saya itu adalah lelaki yang sangat galau dan jomblo, dan sebagainya. Sampai akhirnya dia bbm saya dan bilang “Bunuh gueeeeeeh, bunuh guueeeeh mbuss, bunuuuuh.”

Permasalahannya adalah, kenapa dua orang ini bbm dengan inti yang sama. “bunuh saya!"
kenapa ke saya?
Saya bukan Tuhan yang menentukan nyawa seseorang.
saya bukan jagal.
dan saya juga nggak se-psyco itu untuk dengan sengaja bunuh-bunuh orang yang nggak bermasalah sama saya.

Selama hampir 21 tahun ini saya memang suka membunuh. Terutama yang bermasalah dengan saya. Eitss tapi bukan orang yang saya bunuh. Saya cuma membunuh nyamuk.

Jadi tolong, jangan ada lagi yang bilang ke saya “mbusss bunuh akuuu”. Saya bukan jagal dan bukan psikopat, saya nggak mau mengotori tangan saya dengan membunuh orang.

Untuk orang-orang yang ingin meninggalkan dunia ini lebih cepat daripada yang dikehendaki Tuhan, bunuhlah dirimu sendiri. Dan kamu akan menjadi orang yang paling bodoh sedunia dan akhirat. Kamu akan lebih cepat sampai di neraka pun lebih cepat dari yang dikehendaki Tuhan.




~Mbuss

Sabtu, 28 April 2012

Pahlawan Pelajar


Pelajar. Baik siswa maupun mahasiswa. Pastiidentik dengan sesuatu bernama tugas / PR. Dan entah kenapa seseorang bernama guru atau dosen itu suka sekali ngasih tugas kepada anak didiknya.
Apakah mereka merasa diuntungkan kalau mereka ngasih tugas ke kita? Ah nggak. Dari mana sisi ‘menguntungkan’nya? Saya yakin itu Cuma buat kepuasan mereka aja.

Saya nggak suka yang namanya tugas. Tapi tugas yang paling saya suka dari guru adalah saat kita disuruh ngarang. Ngarang apa aja. Kenapa suka? Karena ngarang itu bukan sesuatu yang di paksa. Dia akan keluar dengan sendirinya dari pikiran. Nggak perlu ngoyo mikirnya.

Sekarang bagi para pelajar, apa untungnya kita ngerjain tugas? Toh belajar juga udah di kelas. Mungkin tugas juga jadi salah satu sarana belajar bagi pelajar yang males belajar. Tapi yang ada itu nggak terjadi. Tugas atau PR bisa dikerjakan dengan berbagai cara, berbagai kecurangan juga.

Semakin kesini dunia semakin maju dan makin kejam (loh apa hubungannya?), pelajar akan lebih ‘pintar’ daripada pengajarnya. Termasuk dalam trik kecurangan untuk mengerjakan tugas.
Namun semakin umur bertambah, dan jenjang pendidikan yang kita tapaki semakin tinggi, tugas yang kita terima akan semakin berat, banyak, dan nggak manusiawi.

Beda dengan tugas/pekerjaan pas kerja. Siapapun yang bekerja akan dengan senang (atau terpaksa) ngerjain tugasnya karena ada harapan di  balik tugasnya itu. Uang. Ya uang, mereka yang bekerja dibayar atas segala usaha dan penyelesaian tugas pekerjaannya. Lah pelajar? Dibayar pakai nilai aja udah cukup.

Buat pelajar, Pernah nggak sih dapet tugas yang nggak manusiawi? Banyaknya keterlaluan atau nggak tau mesti ngapain, tapi mesti dikerjain, dan/atau deadline nya besok pagi?
Berasa sekarat nggak sih?
Atau berasa pengen mati aja gitu?

Yang saya pikirkan akhir-akhir ini kenapa belum ada pelajar yang (maaf) meninggal gara-gara terlalu capek dan frustasi karena mengerjakan tugas yang tidak manusiawi itu dari guru/dosennya.
Pikiran saya itu berasal dari kesibukan saya beberapa hari yang lalu. Karena saya sibuk ngerjain tugas terus, sampe ada sms dari Anke yang kalo diterjemahin begini, “mbus gak usah nugas (ngerjain tugas) terus2an, mati lo kamu nanti”. Spontan saya jawab “kalo aku mati gara-gara ngerjain tugas, ke-enak-an pelajar-pelajar yang masih hidup. Mereka nggak akan banyak tugas lagi, soalnya para pengajarnya belajar dari peristiwa kematianku.” Dan Anke ngakak baca balesan saya itu.

Saya nggak tau kenapa bisa bales omongan kayak gitu, otomatis.

Coba ya ada kejadian kayak gitu. Tapi jangan sayaaa. Kalo ada kejadian kayak gitu kan pasti dosen-dosen pasti sadar kesalahannya. Termaasuk juga si pencetus ide Skripsi. Bagi kebanyakan mahasiswa Skripsi adalah tugas akhir yang maha laknat.

Kalo suatu saat ada kejadian seperti itu pasti menteri pendidikan akan berpikir ulang dan menugaskan pada guru dan dosen untuk tidak memberikan tugas yang memberatkan muridnya.
Dan bagi pelajar yang (maaf) meninggal sebagai korban kekejaman tugas, sangatlah berhak disebut sebagai PAHLAWAN bagi para pelajar di seluruh muka bumi ini.



~Mbuss

Selasa, 06 Maret 2012

tersesat di Eropa


Eropa? Ooh sungguh benua yang benar-benar menjadi impian terbesar saya selama ini. Target pencapaian yang harus saya raih. Wujud kesuksesan saya, hasil dari sekolah, kuliah, dan karir saya.
Nantinya.
Ya nantinya.

Jadi  saya belum berangkat dan menjejakkan kaki di Eropa sodara-sodara. Memiliki rencana berangkat yang fix pun belum. Bahkan paspor dan visa sekalipun belum membuat. Lalu bagaimana bisa seseorang belum berangkat, namun sudah tersesat di Eropa.

Itu hanya istilah saja. Istilah dari percakapan beberapa waktu lalu dengan seorang teman. Istilah yang kami gunakan untuk mewakili jiwa kami yang memang ‘tersesat’.

Bayangkan, saya memiliki impian terbesar seperti kalimat awal di post ini. Kemudian suatu hari ada seseorang mengajak saya untuk pergi ke Eropa bersamanya, berdua. Saya menyiapkan paspor dan visa sebagai benda wajib saya selain kartu identitas saya disana. Seperti mendapat durian runtuh. Senang, bahagia dan saking senangnya sampai merasa telapak kaki ini sudah tak menyentuh bumi lagi, melayang. Seperti diajak malaikat untuk menyusuri taman Firdaus yang indah di Surga.

Hari yang ditunggu tiba. Hari dimana akhirnya saya benar-benar bangun dari mimpi indah, dan menapakkan kaki saya di tanah Eropa. Nyata. Ini bukan mimpi. Saya dengan seseorang itu. Dia  senang, jelas. Tapi saya lebih senang, karena ini memang salah satu dari ‘goal’ hidup yang saya rencanakan. Eropa. Kini saya ada di Eropa. Pijakan pertama kaki saya ini ternyata ada di Paris. Kota pertama yang memang saya impikan. Kota dimana menara itu berdiri kokoh dan memukau. Kota dimana setiap tamannya adalah taman yang saya kira indah, dan kota dimana setiap sudutnya adalah magnet yang selalu menarik keinginan saya untuk datang kesana.
Dari airport dan mengurus segala keperluan yang ada, kami tiba di hotel. Beristirahat sejenak. Tak sabar kami pun segera menyusuuri setiap sudut kota itu. Beberapa hari di Paris. Semuanya begitu indah dan mengesankan.

Hingga disinilah cerita mulai bercabang. ‘Saya’ dan ‘Dia’ di cerita pertama tidak sama dengan yang di cerita kedua nanti.

*cerita pertama*
pada hari ketiga perjalanan menikmati kota sejuta cinta itu, tiba-tiba dia yang pada awalnya mengajak saya dan menanggung segala kebutuhan saya di Eropa ini pergi. Dia menghilang tiba-tiba ketika kami sedang berada di salah satu taman yang indah. Tak tahu, perkiraan saya mungkin dia sedang menyiapkan kejutan untuk saya. Saya tetap menunggunya di taman itu. Menunggunya dengan senang. Tanpa berpikir buruk sedikitpun. Hingga larut, saya mulai tak tenang.
Kembali ke hotel menjadi pilihan saya, karena sudah terlalu lelah menunggu. Kenyataan berkata lain. Tak ada kejutan indah seperti yang saya bayangkan. Kamar hotel sudah bersih, kosong. Kami menginap di kamar yang berbeda. Saya tengok kamar Dia ternyata kosong juga. Saya tanya ke resepsionis hotel, ternyata kamar yang saya huni atas nama Dia tercatat telah check out sekitar 5 jam yang lalu. Ooh, 5 jam yang lalu, selama itu juga saya menunggu Dia di taman, dan tak kembalimenemui saya hingga saat ini. Ternyata Dia pergi. Dia membereskan semuanya, semua barang, koper, dan semuanya, termasuk paspor dan visa saya yang dibawanya. Ooh saya pikir, mungkin dia memiliki rencana yang lain, mungkin malam ini juga dia mengajak saya terbang ke Roma. Baiklah saya tunggu, saya check in sendiri di hotel itu lagi atas nama saya sendiri.
Saya tidur. Tapi tak tidur. Terus memikirkan apa yang sedang diperbuat oleh seseorang itu, kenapa dia pergi dan menghilang tiba-tiba. Apa saya telah melakukan kesalahan yang tidak saya sengaja, tapi itu fatal dan menyakitinya sehingga Dia pergi dan sama sekali tak bisa dihubungi ponselnya.
Parahnya lagi, saya sudah mulai kehabisan uang saya. Saya urung. Kota Paris ini sudah tak lagi menarik bagi saya. Saya tak tahu mesti bagaimana. Mau pulang kembali ke Indonesia, paspor, visa, dan segala milik saya dibawa olehnya. Bagaimana saya bisa pulang? Sedangkan untuk bertahan hidup disini pun saya tidak memiliki apa-apa, dan siapapun untuk dimintai pertolongan.
Lalu bisa apa saya ini? Yang bisa saya lakukan hanyalah tetap bertahan hidup untuk orang-orang yang menunggu saya di Indonesia. Tetap di Paris, menunggunya kembali.


*cerita kedua*
Hari ketiga menikmati hari di kota ini, Kami sangat senang. karena saya yang memiliki impian ini dari dulu, dan Dia ikut menemani saya bermimpi, akhirnya kami tiba di kota ini. Sore hari kami duduk-duduk di taman dekat menara Eiffel, berbincang, bercanda, dan kami sangat menikmati suasana ini. Sampai ada kalimat dari Dia, yang menurutnya sangat penting terucap, tapi saya mengabaikan dan mengalihkannya pada perbincangan tentang hal lain. Dia tidak marah, biasa saja, dan kami pun masih tertawa bersama. Meski saya tau bagaimana perasaannya. Karena yang saya lakukan ini adalah yang terbaik untuk kami, setidaknya itu menurut saya.
Kami terus menikmati sore itu, sampai dinner sederhana tapi menyenangkan dan romantis. Kami pun kembali ke hotel. Istirahat di kamar masing-masing. Jelas lah kami beda kamar. Saya tidur nyenyak, mungkin karena kecapaian dan terlalu senang. Dia pun begitu (sepertinya).

Tapi mimpi buruk terjadi pagi hari, eh atau menjelang siang. Ya kebiasaan saya memang sulit bangun pagi. Dia sudah bangun lebih dulu. Entah jam berapa. Saya menyimpulkan kalau dia bangun lebih dulu, karena saat saya menghampiri ke kamarnya untuk mengajaknya brunch, Dia sudah tidak ada di kamarnya, barang-barangnya pun tidak ada, bersih. Saya tanya ke resepsionis hotel, ternyata dia memnag sudah check out tadi pagi-pagi sekali. Dia juga membayari kamar saya. Saya sedikit shock. Sedikit saja, karena saya menyadari apa yang telah saya perbuat kemarin. Saya mengecewakannya. Sehingga sekarang dia marah. Atau tidak marah, tapi kecewa yang teramat berat pada saya.

Saya mencoba tenang. Menghubunginya pun tidak saya lakukan, karena saya malu atas kesalahan saya kemarin. Sedikit tapi fatal. Namun saya memperhatikannya dari jauh. Dengan sifat keingintahuan saya (kepo) saya melihat-lihat statusnya di beberapa jejaring sosial. Ternyata dia sudah terbang dan mendarai di London, Inggris. What?? Dia meninggalkan saya sendiri disini, tapi Dia sudah di London sekarang? Gila aja! Tega-teganya Dia ninggalin saya. Hmm Kembali lagi. Itu salah saya juga sih.

Tapi untungnya segala berkas penting ada di saya, paspor, visa, kartu identitas, dan semua barang-barang saya masih saya pegang sendiri. Uang juga masih ada. Jadi saya masih bisa menikmati hari-hari saya di Eropa ini. Untuk menghilangkan kesedihan saya, baiklah saya ke jalan-jalan saja, sendirian nggak masalah, toh saya juga punya kemampuan kok. Menikmati Paris sendirian sambil belanja sampai puas. Setelah itu saya memutuskan pulang kembali ke Indonesia. Bertemu orang-orang yang menunggu saya.

Dari ke-kepo-an yang berlanjut, saya melihat ternyata setelah dari inggris Dia melanjutkan berkeliling Eropa, Roma, Venice, Belanda, Jerman, Barcelona. Setelah itu kemana lagi saya tak tahu, dan entah apakah Dia akan kembali lagi ke Indonesia atau akan tetap di Eropa.


Dan begitulah dua cerita berbeda, dialami dua subjek yang berbeda, dengan konteks yang berbeda.




~Mbuss

Duniaku tertinggal disana

Hampir tiga tahun saya disini. Di kota perantauan. Serasa meninggalkan dunia saya yang tertinggal ‘di sana’.  Pasti kebanyakan berpikir ‘disana’ itu adalah Nganjuk kota asal saya. Hmm bukan. Tidak se-singkat itu. Dunia saya banyak dan begitu luas.

Duniaku tertinggal disana,
duniaku tak disini
duniaku tertinggal bersama mereka.
Duniaku ada jika aku ada bersama mereka. Orang tua, saudara-saudara, dan sahabat yang kuanggap lebih layaknya saudara sedarah.
Duniaku bukan yang sepi seperti ini. Duniaku ramai, penuh tawa dan keceriaan.
Duniaku tak disini, aku ingin kembali bersama mereka, walau kurasa sulit untuk menyatukan semuanya secara utuh.
Karena duniaku tersebar, layaknya bumi ini yang terpecah oleh benua dan pulau-pulaunya.
Kalaupun tak bisa kusatukan dengan utuh keseluruhan itu, akan ku datangi mereka satu-satu, sebagian. Aku yang akan mendatangi benua-benua dan pulau-pulau itu.
Tunggu saja aku, aku akan datang dan menemui kalian kembali, duniaku satu persatu.
Duniaku ada pada mereka yang telah kusebut dibeberapa post awal blog ini.
My best partner in life. My whole life.



~Mbuss

Our life just like a candle


Lilin.
Kalian semua pasti tau lilin. Sebuah benda yang secara normal atau biasanya berbentuk lurus vertikal, panjangnya sekitar 20 cm. Sebuah benda yang tidak terlalu penting saat kehidupan berjalan normal, namun sangatlah penting saat dunia dan sekitar menjadi gelap.

Dibalik bentuk dan fungsinya yang demikian pasti banyak yang nggak tau dari mana lilin itu berasal. Tapi disini saya nggak akan nulis tentang gimana proses pembuatan lilin, karena saya juga belum tahu sebenarnya.

Kalau diibaratkan Manusia itu seperti lilin, atau lilin yang seperti manusia. Apalah itu intinya manusia = lilin. Sumbu yang ada pada lilin itu ibarat nyawa pada manusia. Ada batasnya, nggak akan selamanya nyala, begitu juga manusia, nggak akan selamanya hidup kekal. Yang membedakan disini adalah kita bisa tahu berapa lama lilin ini akan mati kalau kita mau menunggui dan menandai waktunya dari awal lilin nyala sampai sumbunya habis, sedangakan kita manusia nggak akan mengetahui kapan saatnya umur kita habis. Mungkin lilin yang tahu kapan kita akan habis waktunya. Kan kebalikannya. Nggak ada sumbu, lilin itu nggak akan bisa nyala, nggak berfungsi apa-apa.

Lilin yang kebanyakan orang pasti tahu adalah yang bentuknya panjang dengan tinggi sekitar 20 cm dan berwarna putih. Tapi selain itu banyak sekali lilin dengan bentuk-bentuk yang lucu dan unik sudah nggak asing lagi sering kita jumpai di toko-toko. Manusia juga begitu, tak semuanya berwujud yang sama tinggi, putih, langsing seperti lilin. Kalau mau nulis tentang wujud fisik manusia ini nggak akan ada batasnya, karena sangatlah banyak. Apalah arti bentuk bagi sebuah lilin mereka mempunyai fungsi utama yang sama. Apalah arti fisik bagi setiap manusia, toh mereka mempunyai kehidupan sendiri dengan ‘sumbu’nya masing-masing.

Lilin dengan bentuk standart warna putih yang langsing itu tidak mengeluarkan aroma wangi, padahal diluar sana banyak lilin yang bisa mengeluarkan aroma, yang wanginya bisa menenangkan. Biasa disebutnya lilin aroma terapi. manusia juga jangan terlalu bangga dengan apa yang dimilikinya. Bahwa diluar sana masih banyak manusia lain yang memiliki keunggulan lebih. Seperti lilin. Seandainya semua perusahaan lilin yang ada didunia ini beralih memproduksi lilin aroma terapi yang wangi, bagaimana dengan lilin putih langsing itu? Tersingkir. Karena angkuhmu yang merasa bahwa kau lah lilin terseksi karena tubuhmu yang tinggi putih semampai.

Setiap manusia memang seperti lilin. Kadang hanya di cari saat manusia membutuhkan cahaya di kegelapan, namun setelah itu dimatikan lagi saat lampu sudah mulai terang. Disinilah keegoisan manusia muncul tanpa disadari, eh tapi ada juga yang memang secara sadar dilakukan. Tak jarang kita menjumpai orang lain bahkan teman atau sahabat sendiri yang datang kepada kita saat dia sangat membutuhkan kita, dan setelah dia selesai dengan keperluannya dia pergi. Namun apa yang kita lakukan sebagai ‘lilin’? kita tetap terima kan. Ikhlas. Dan siap menyambut lagi mereka yang membutuhkan kita sewaktu-waktu.

Lilin menjadi sumber penerang untuk sekitarnya. Manusia pun menjadi sumber kehidupan untuk manusia lain. Sumber kesenangan, kebahagiaan, tawa, sedih, duka, derita, dan sebagainya hanya akan terjadi apabila manusia hidup bersama manusia lain.

Disisi lain, lilin yang menyala juga panas kalau disentuh, bisa-bisa kulit melepuh kalau kena lelehan lilinnya. Begitu juga manusia, seindah dan sebaik apapun dia memiliki sisi ‘panas’. Ada batas-batas tertentu bagi kita manusia lain untuk tidak sampai mengenai sisi ‘panas’ manusia, sensitif, tersinggung, dan marah. Itu akan melukai diri sendiri.

Apa lagi yang bisa saya uraikan tentang lilin. Eh ada satu yang belum, tentang cinta. Apakah cinta juga seperti lilin? Sepertinya iya. Atau mungkin tidak. Ah entahlah silahkan saja uraikan sendiri.



~Mbuss

Minggu, 04 Desember 2011

tentukan kebahagiaanmu, atau kau akan sakit jiwa

Siapa bilang kebahagiaan itu mudah? asalkan bisa berkumpul bersama orang-orang yang kita sayangi adalah kebahagiaan. Bullshit!! Terus kalo lagi jauh sama orang-orang yang kita sayangi itu apakah hidup ini sama sekali nggak bahagia?? Dan kalo lagi ngumpul sama orang-orang itu tapi suasana nggak kondusif seperti yang kita inginkan, apakah itu juga kebahagiaan??

Siapa bilang kebahagiaan nggak diukur dari materi?? Itu juga bullshit!! Realistis aja lah jadi orang. Saya nggak mau munafik, setiap hembusan nafas ini adalah materi dan butuh materi untuk nafas-nafas berikutnya. Walaupun saya belum bisa mengahsilkan materi sendiri untuk diri saya, paling nggak saya masih bisa memanfaatkan materi yang dikasih orang tua saya.

Materi, ya, mungkin itu salah satu cara orang tua saya membahagiakan saya. Secara tidak setiap hari saya bisa bertemu dengan mereka. Saya bukan anak yang terlahir dari keluarga konglomerat, yang kayanya selangit, dan nggak akan kehabisan harta sampe turunan ke sebelas. Saya hidup dari keringat kerja keras kedua orang tua saya, yang  sampai saat ini sama sekali belum bisa saya bahagiakan. Alhamdulillah saya hidup berkecukupan, karena saya selalu bersyukur atas apa yang saya miliki.

Kembali ke kebahagiaan dan materi hubungannya dengan kesehatan jiwa. Kenapa hubungannya dengan kesehatan jiwa? Tahu sendiri kesehatan fisik pasti semua sudah mengerti bagaimana menjaganya? Nah kalo kesehatan jiwa? Gimana menjaganya? Oalharaga jiwa? Makan makanan jiwa? Mana adaaa?? Menurut saya satu-satunya yang mendasari kesehatan jiwa adalah kebahagiaan. Orang yang sedang sedih itu jiwanya sedang tidak sehat. Jadi, saya selalu berusaha menyenangkan diri saya saat saya sedang sedih atau kalut, agar jiwa saya tidak sakit. Jiwa yang sakit terlalu sering bisa membalik frase kata ‘jiwa sakit’ menjadi ‘sakit jiwa’. Dan saya nggak mau sakit jiwa. J

Untuk mempertahankan jiwa yang sehat itu kembali butuh sesuatu, sesuatu yang kalo menurut saya lebih mahal dibandingakn untuk menjaga kesehatan fisik.
 Orang, dimana kita bisa membeli orang yang bisa membuat kita bahagia bersamanya/mereka.
 Waktu, kalau waktu bisa dibeli dengan materi, semacam lorong waktu, mungkin saya akan terus membeli waktu untuk kembali atau menuju waktu baru disaat saya sedang bahagia. Atau pintu ajaib yang akan mempersingkat waktu perpindahan kita dari tempat satu ke tempat yang ingin kita tuju, demi apapun saya mau nabung kalau memang dua benda itu ada dipasaran.
 Fisik, syukurlah kita punya fisik yang sempurna dan sehat, jadi kita masih bisa berpindah dari tempat yang ‘suram’ ke tempat yang lebih menyenangkan.
·         Kesempatan, kesempatan nggak bisa dibeli, tapi sangat bisa dimanfaatkan.

Terlepas dari sesuatu yang nggak akan bisa terbeli itu, untuk menunjang kebahagiaan sesungguhnya juga butuh materi, secara realistis yaaa. Pasti ada tempat, acara, dan kegiatan sebagainya yang bisa menyehatkan jiwa kita. Pergilah kesana. Tapi semuanya itu perlu duit. Bayar sodara-sodaraa. Kecuali kalo kita adalah makhluk halus yang kemana-kemana bebas masuk seenaknya tanpa bayar dan tanpa diketahui orang-orang. Hehe

Jadi, cari apa yang membuatmu tak bahagia, keluarkan, atau kalau tetap tak bisa keluar, biarkan saja dia didalam, tindih dengan datangkan kebahagiaan dan kesenanganmu. kalo ada orang yang menyebabkan ke'suram'an dalam hidup, tinggalkan. dia nggak penting. Just do it! Kalau sesuatu yang membuatmu tak bahagia muncul lagi, abaikan saja. Itu hanya pengganggu dalam hidup. Dan dialah yang akan membuat kita dapat menemukan sesuatu yang menyenangkan lainnya, bahkan lebih.



~Mbuss